Archive

Archive for September, 2015

Mochtar Riady

September 27th, 2015 1 comment
Mochtar Riady - Manusia Ide

Mochtar Riady – Manusia Ide

Beberapa minggu lalu saya melihat buku baru di Gramedia, dengan gambar Mochtar Riady berjudul “Manusia Ide”. Ini adalah jenis buku yang saya tunggu-tunggu. Saya selalu terpesona dengan cara Lippo menjalankan usahanya, di belakangnya, ada Mochtar dan James Riady. Saya juga selalu bertanya-tanya, apakah Mochtar akan menulis buku. Untungnya, dia menulis cerita suksesnya, kehidupannya, usaha, dan keluarganya. Bagiku ini sangat penting, tidak hanya untuk keperluan pribadi, tapi juga untuk kepentingan publik. Setiap orang perlu belajar dari orang luar biasa ini.

Saya beruntung sebagai salah seorang yang pernah bekerja di Lippo. Saya mengalami sendiri betapa perusahaan ini sangat aktif, ambisius, percaya diri, dan visioner. Manajemen bergerak sangat cepat untuk mencapai tujuan ambisiusnya. Sampai sekarang, Lippo terus berkembang, terutama didukung oleh munculnya usaha-usaha baru oleh berbagai generasi dari keluarganya.

Membaca biografinya, saya bisa melihat bahwa Pak Mochtar adalah CEO dan wirausaha yang brilian. Dia mempunyai visi yang kuat dan berani untuk perusahaannya tapi juga sangat baik dalam menjalankan perusahaannya. Dia melihat bahwa sistem operasi sebuah perusahaan sangat penting. Efisiensi, efektivitas, produktivitas adalah prinsip-prinsip lain yang perlu dicapai. Sebuah perusahaan diibaratkan seorang manusia. Jika tubuh manusia kelebihan berat badan, dia belum tentu mampu bergerak cepat. Begitu juga dengan perusahaan. Suatu perusahaan akan sehat jika perusahaan itu efisien dan produktif.

Satu poin yang menarik dari biografinya, bahwa tidak hanya berupa otobiografi, tapi juga ada buku lain yang ditulis oleh berbagai macam pihak di dalam kehidupannya. Pandangan orang-orang ini melengkapi pemahaman pembaca mengenai Mochtar Riady, kehidupannya, pencapaiannya, dan kemanusiaannya. Banyak yang mengatakan bahwa dia tidak hanya brilian dalam bisnis, tapi juga dalam hal kemanusiaan. Hal ini penting. Ini menunjukkan kepada semua orang bahwa uang bukanlah segalanya. Di dalam biografinya, setiap orang bisa melihat bahwa dia masih hidup secara sederhana, meski sangat kaya. Setiap orang perlu memperhatikan orang lain, membawa manfaat kepada komunitasnya, melalui bisnis. Ini merupakan konsep yang sedang tren saat ini sebagai “social enterprise” atau bahkan merupakan konsep lain yang lebih penting, juga dipopulerkan oleh Mohammad Yunus.

Pak Mochtar mengatakan bahwa hidupnya adalah pencapaian dari satu tujuan ke tujuan lainnya. Hal itu sangat sederhana, tapi mungkin banyak yang tidak mengerti betapa hal itu penting. Seseorang bisa saja hidup hanya mengikuti alur yang ada, sebagai hasilnya, orang tersebut tidak merencanakan dengan baik hidupnya di muka. Saya teringat akan suatu kutipan, “Sukses itu adalah tujuan, dan yang lain hanya komentar-komentar”. Membaca kehidupan Pak Mochtar membuat keyakinan saya bertambah kuat mengenai pentingnya menetapkan tujuan.

Kehidupan Pak Mochtar menginspirasi saya untuk meningkatkan diri jauh lebih baik dari sekarang. Masih banyak yang bisa diraih, bisa dipelajari, bisa dilakukan Jangan berhenti belajar. Jangan berhenti bertumbuh. Melihat semangatnya meski sudah tua, juga mengingatkan setiap dari kita untuk selalu aktif dalam hidup. Umur tua bukanlah hambatan. Hal ini mudah dikatakan daripada dilakukan.

Di bawah kepemimpinannya, Lippo menjadi salah satu grup konglomerat terbaik di Indonesia. Sebagai orang Indonesia, dan alma mater Lippo, saya merasa bangga. Banyak orang Indonesia sadar, jika mereka pergi ke Hong Kong atau Shanghai, mereka akan melihat gedung Lippo di sana. Itu menakjubkan. Sekarang, saya membaca dari otobiografinya, Lippo baru saja membeli gedung menara di Amerika. Dengan demikian, visi Mochtar telah lengkap dengan hadir di ibukota negara besar di dunia. Ini tentunya mengharumkan nama Lippo, dan juga nama Indonesia.

Pak Mochtar, terima kasih telah membagi tentang kehidupan Anda. Saya percaya bahwa kehidupan Anda akan menginsiprasi banyak orang sehingga setiap orang dapat mencapai lebih dari apa yang mereka pikir mereka bisa capai.

Categories: Tokoh Tags: , , ,

Perlukah Melonggarkan Kepemilikan Properti bagi WNA?

Wanita WNASeluruh bumi, air dan ruang angkasa, termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dalam wilayah Republik Indonesia sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa adalah bumi, air dan ruang angkasa bangsa Indonesia dan merupakan kekayaan nasional. Hubungan antara bangsa Indonesia dan bumi, air serta ruang angkasa termaksud dalam ayat 2 pasal ini adalah hubungan yang bersifat abadi.” (Pasal 1 ayat 2 UU Pokok Agraria 1960)

Akhir-akhir ini hangat dibicarakan kembali tentang rencana untuk melonggarkan kepemilikan properti bagi warga negara asing (WNA). Pembicaraan tentang hal ini bukanlah hal yang baru. Dari tahun ke tahun, isu ini selalu diangkat.

Pengaturan tentang tanah di Indonesia merujuk pada hak menguasai negara yang bersumber dari Pasal 33 UUD 1945, yang berbunyi bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Wewenang hak menguasai tersebut digunakan untuk mencapai sebesar-besar kemakmuran rakyat dalam arti kebangsaan, kesejahteraan dan kemerdekaan dalam masyarakat dan Negara hukum Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur. Adalah sangat penting untuk memahami konsep hukum tanah nasional dan sifatnya agar rencana untuk melonggarkan kepemilikan properti bagi WNA tidak keluar dari tujuan awal para pembuat UUPA.

Hak WNA Berdasarkan UUPA

WNA berhak memperoleh hak pakai dan hak sewa. UUPA menggariskan bahwa hak pakai dan hak sewa hanya boleh diberikan kepada WNA yang berkedudukan di Indonesia. Kedudukan di Indonesia dapat dibuktikan dengan ijin tinggal terbatas atau ijin tinggal tetap yang diberikan oleh pemerintah kepada WNA tersebut. Dalam perkembangannya, karena ketentuan UUPA dianggap terlalu memberatkan WNA, penafsiran “berkedudukan di Indonesia” diperlonggar melalui peraturan pemerintah dan peraturan menteri agraria yang terbit pada tahun 1996 yang menggolongkan hal tersebut menjadi orang asing yang tinggal tetap atau orang asing yang hanya berkunjung ke Indonesia.

Karakteristik Hak Pakai

Sejak awal penerbitan UUPA, hak pakai memang dimaksudkan sebagai jenis hak atas tanah dengan wewenang yang terbatas. Salah satu ketentuan UUPA mengatur bahwa hak pakai hanya dapat dialihkan kepada pihak lain dengan izin pejabat yang berwenang. Hal ini dipertegas kembali di dalam penjelasan yang menyebutkan bahwa orang-orang dan badan hukum asing dapat diberi hak pakai, karena hak ini hanya memberi wewenang yang terbatas. Dari segi periode, jangka waktu hak pakai lebih pendek jika dibandingkan dengan hak guna bangunan atau hak guna usaha. Hal ini masuk akal terutama jika disandingkan dengan periode ijin tinggal yang diberikan bagi WNA di Indonesia yaitu selama jangka waktu tertentu. Sejak awal pembuat UUPA sudah mengerti bahwa keberadaan WNA di Indonesia adalah sementara, dan oleh karena itu, hak atas tanah yang cocok adalah hak pakai.

WNA Versus Penanaman Modal Asing

Diskusi dan perdebatan terhadap kepemilikan properti bagi WNA seringkali tidak ditaruh dalam tataran yang seimbang. UUPA sejak awal sudah mengatur bahwa hak guna usaha dan hak guna bangunan terbuka untuk diberikan kepada badan hukum yang sebagian atau seluruhnya bermodal asing. Hal ini dikenal sebagai penanaman modal asing (PMA). PMA wajib berbentuk perseroan terbatas (PT PMA) dan didirikan berdasarkan hukum Negara Indonesia. PT PMA berhak membeli dan memiliki hak guna bangunan, hak guna usaha, ataupun hak pakai. Hal ini logis karena keberadaan PT PMA sewajarnya memberikan dampak signifikan bagi pertumbuhan ekonomi dan akhirnya, menyejahterakan masyarakat. Selain itu, keberadaan PT PMA bisa berlangsung tanpa batasan waktu. Keberadaan PT PMA yang memiliki dan menguasai tanah pada lokasi-lokasi strategis di tanah air Indonesia telah berlangsung lama dan akan terus berlangsung mengingat kebijakan penanaman modal asing yang terus dipromosikan oleh pemerintah Indonesia. Dari sini jelas terlihat, pembuat UUPA telah memberikan kelonggaran bagi PT PMA tapi membatasi WNA karena perbedaan karakteristik dari kedua subjek tersebut.

Jika seseorang mencoba memahami UUPA, jelas terlihat bahwa pembuat UUPA sejak awal membedakan perlakuan antara WNA dan WNI, begitupun antara WNA dan PT PMA, tentunya dengan alasan yang logis dan wajar. Jika betul begitu penting bagi WNA memiliki properti di bumi Indonesia, selalu terbuka bagi WNA tersebut untuk mengajukan permohonan naturalisasi sebagai WNI. Jika WNA tersebut hendak melakukan kegiatan usaha di bumi Indonesia, pemerintah telah membuka kesempatan untuk mendirikan PT PMA, yang berhak memiliki hak atas tanah.

Dengan demikian, sebetulnya tidak ada pembatasan signifikan terhadap kepemilikan asing terhadap properti di Indonesia. Bahkan, sering kali pembicaraan terkait hal ini cenderung berlebihan. Mari kita renungkan “jiwa” dari UUPA sebagaimana dikutip pada awal tulisan ini. Harapannya, diskusi dan perdebatan terhadap rencana merevisi kepemilikan properti bagi WNA dapat didudukkan secara seimbang dan jangan sampai mengkhianati tujuan mulia dari pembuat UUPA.

Eddy Leks

*artikel ini telah diterbitkan pada Harian Kontan tanggal 21 Augstus 2015

Categories: Perdata, Pertanahan, Perumahan, Rumah Susun Tags: