Archive

Archive for October, 2012

Pengembang: Hati-hati Atas Penarikan Dana Lebih Dari 80% Terhadap Penjualan Rumah Tunggal, Rumah Deret, dan/atau Rumah Susun

Undang-undang Nomor 1 tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman (“UU Perumahan”) telah berlaku sejak tanggal 12 Januari 2011. Di dalam UU Perumahan, diatur beberapa sanksi pidana yang dapat menjerat pengembang, pejabat pemerintah, ataupun pihak-pihak lain. Salah satu ketentuan yang perlu diwaspadai ialah ketentuan yang diatur di dalam Pasal 138 UU Perumahan, yang berbunyi sebagai berikut:

Badan hukum yang melakukan pembangunan rumah tunggal, rumah deret, dan/atau rumah susun dilarang melakukan serah terima dan/atau menarik dana lebih dari 80% (delapan puluh persen) dari pembeli sebelum memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45.

Jika pengembang melanggar Pasal 138 UU Perumahan, terdapat sanksi pidana berupa pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp 1.000.000.000,- (satu miliar rupiah). Hal yang perlu dicermati ialah, ketentuan Pasal 138 ini tidak hanya mengatur tentang pembangunan rumah tunggal atau rumah deret, tetapi juga terhadap rumah susun. Dengan demikian, Pasal 138 UU Perumahan mencakup para pengembang rumah susun.

Jadi, persyaratan apa saja yang perlu dipenuhi sebelum serah terima dan/atau penarikan dana lebih dari 80% dapat dilakukan?

Sesuai dengan Pasal 138, persyaratan itu diatur di dalam Pasal 45 jo. 42 ayat (2) UU Perumahan. Pasal 42 ayat (2) UU Perumahan mengatur sebagai berikut: Read more…

Batalnya Ketentuan tentang Luas Lantai Seluas 36m2 Terhadap Rumah Tunggal dan Rumah Deret Sebagaimana Diatur Dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman

Pada tanggal 12 Januari 2011, Undang-undang Nomor 1 tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman (“UU Perumahan”) telah terbit dan berlaku sejak tanggal pengundangannya. Salah satu ketentuan di dalam UU Perumahan yang menjadi keberatan bagi banyak pengembang di tanah air ialah Pasal 22 ayat (3) yang berbunyi sebagai berikut:

“(3) Luas lantai rumah tunggal dan rumah deret memiliki ukuran paling sedikit 36 (tiga puluh enam) meter persegi.”

Ketentuan tersebut menyulitkan pihak pengembang, terutama pengembang yang membangun rumah sederhana untuk masyarakat berpenghasilan rendah, karena dengan adanya ketentuan tersebut, maka harga jual rumah pun otomatis menjadi lebih tinggi. Sedangkan secara umum diketahui, untuk rumah sederhana, pengembang seringkali memasarkan dan menjual rumah tunggal atau rumah deret dengan luas lantai kurang dari 36m2. Read more…